Pembagian Alam Menurut Ulama Islam
Ulama islam membagi alam ini menjadi dua kelompok; yaitu:
1) Alam nyata;
2) Alam ghaib yang terbagi menjadi dua, yakni:
a. alam ghaib idhafi ( nisbi )
b. alam ghaib hakiki( mutlak )
Alam nyata dan alam ghaib idhafi adalah lapangan ilmu dan kebudayaan, sedangkan alam ghaib hakiki merupakan lapangan agama. Semua masalah yang berada dalam medan empiris (wilayah pengalaman) manusia tetapi belum diteliti masuk ke dalam alam ghaib idhafi. Suatu ketika bukan mustahil alam nisbi ini akan dijadikan alam nyata oleh ilmu. Hal-hal yang diluar empiris masuk ke dalam ghaib hakiki, misalnya darimana asalnya jagat raya dan ke mana akhirnya. Malaikat tidak mungkin diteliti oleh ilmu, karena termasuk ke dalam ghaib hakiki.
Pengetahuan manusia tentang ghaib hakiki adalah bersifat spekulasi atau dugaan. Tuhanlah yang memberikan pengetahuan yang pasti dan benar. Pengetahuan kita tentang malaikat sejauh yang diinformasikan oleh Alquran dan menerimanya dengan akal yang sehat.
Allah menyampaikan wahyu kepada para rasul melalui Malaikat Jibril, yang bagi kaum Nasrani disebut Ruh Kudus. Allah memberitakan melalui Jibril bahwa Maryam akan melahirkan anak(Isa). Seandainya Allah langsung menyampaikan wahyu-Nya, maka akan hilang ke Esaannya. Sebab rasul adalah alam.
Bentuk dan kata haruslah bersifat alami untuk dapat ditangkap oleh manusia, karena rasul bersifat alami pula. Jika tidak demikian, Tuhan akan berserikat. Dia tidak lagi jadi Tuhan Yang Esa. Akibatnya Tauhid dan islam sebagai Ad-Diin yang benar akan runtuh.
Kesimpulannya, Tuhan adalah Maha Besar, Maha Tinggi dan Maha Agung untuk langsung berhubungan dengan alam manusia dan lainnya.
Karena itulah Allah tidak langsung bertindak terhadap alam manusia melainkan memakai perantara, yaitu para malaikat. Apabila kita sudah yakin adanya malaikat, akibat logisnya akan yakin pula kepada kitab-kitab suci(Zabur, Taurat, Injil, Alquran) yang disampaikan oleh Jibril dari Allah kepada Rasul-Nya.
1) Alam nyata;
2) Alam ghaib yang terbagi menjadi dua, yakni:
a. alam ghaib idhafi ( nisbi )
b. alam ghaib hakiki( mutlak )
Alam nyata dan alam ghaib idhafi adalah lapangan ilmu dan kebudayaan, sedangkan alam ghaib hakiki merupakan lapangan agama. Semua masalah yang berada dalam medan empiris (wilayah pengalaman) manusia tetapi belum diteliti masuk ke dalam alam ghaib idhafi. Suatu ketika bukan mustahil alam nisbi ini akan dijadikan alam nyata oleh ilmu. Hal-hal yang diluar empiris masuk ke dalam ghaib hakiki, misalnya darimana asalnya jagat raya dan ke mana akhirnya. Malaikat tidak mungkin diteliti oleh ilmu, karena termasuk ke dalam ghaib hakiki.
Pengetahuan manusia tentang ghaib hakiki adalah bersifat spekulasi atau dugaan. Tuhanlah yang memberikan pengetahuan yang pasti dan benar. Pengetahuan kita tentang malaikat sejauh yang diinformasikan oleh Alquran dan menerimanya dengan akal yang sehat.
Allah menyampaikan wahyu kepada para rasul melalui Malaikat Jibril, yang bagi kaum Nasrani disebut Ruh Kudus. Allah memberitakan melalui Jibril bahwa Maryam akan melahirkan anak(Isa). Seandainya Allah langsung menyampaikan wahyu-Nya, maka akan hilang ke Esaannya. Sebab rasul adalah alam.
Bentuk dan kata haruslah bersifat alami untuk dapat ditangkap oleh manusia, karena rasul bersifat alami pula. Jika tidak demikian, Tuhan akan berserikat. Dia tidak lagi jadi Tuhan Yang Esa. Akibatnya Tauhid dan islam sebagai Ad-Diin yang benar akan runtuh.
Kesimpulannya, Tuhan adalah Maha Besar, Maha Tinggi dan Maha Agung untuk langsung berhubungan dengan alam manusia dan lainnya.
Karena itulah Allah tidak langsung bertindak terhadap alam manusia melainkan memakai perantara, yaitu para malaikat. Apabila kita sudah yakin adanya malaikat, akibat logisnya akan yakin pula kepada kitab-kitab suci(Zabur, Taurat, Injil, Alquran) yang disampaikan oleh Jibril dari Allah kepada Rasul-Nya.