Pembuktian Wujud Allah
Walaupun manusia telah menghayati wujud Allah melalui ciptaan-Nya, pengalaman batin atau fitrah manusia sendiri, namun dia masih juga menginginkan pembuktian secara langsung bertemu muka. Sebagai contoh Nabi Musa as, pernah memohon agar Allah menampakkan dirinya kepadanya, seperti disebutkan dalam Q.S. Al-A'raf(7):43
Wa lammaa jaa-a muusaa limiiqaatinaa wa kallamahuu rabbuhuu qaala rabbi arinii anzhur ilaik qaala lantaraanii wa laakinin zhur ilal jabali fa inis taqarra makaanahuu fa saufa taraanii, fa lammaa tajallaa rabbuhuu lil jabali ja'alahu dakkaw wa kharra muusaa sha'iqaa, fa lammaa afaaqa qaala subhaanaka tubtu ilaika wa ana awwalul mu'miniin.
"Dan tatkala Musa datang untuk(munajat dengan kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman(langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakanlah(diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman" Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatku" Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman."
Oleh karena segala usaha manusia dalam pembuktian wujud Allah itu tetap nisbi dan terbatas, maka pembuktian perlu dicari dari sumber asli yang berasal dari Allah yaitu Alquran dan Sunah Rasul yang merupakan penjabaran Alquran.
Cara pembuktian lain hanya relevan bilamana tidak bertentangan dengan bukti-bukti yang disebutkan dalam Alquran dan As-Sunnah. Pembuktian yang dilakukan dengan cara lain berfungsi merinci ketentuan yang terdapat dalam Alquran dan Sunnah Rasul.
Dalam rangka mengembangkan keimanan kepada Allah secara falsafi yang sesuai dengan syariat Islam, Ibnu Rusyd menggunakan dalil nizham,(kerapian susunan alam) yang disebut dalil inayah wal-ikhtira(pemeliharaan dan penciptaan)
Adapun dalil inayah ialah teori yang mengarahkan manusia agar mampu menghayati wujud Allah melalui penghayatan dan pemahaman manfaat alam untuk manusia.
Hasil penelitian ilmiah menyatakan, bahwa alam ini sesuai dengan keperluan hidup manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Persesuaian manfaat ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan.
Bukti persesuaian wujud alam dengan keperluan kehidupan manusia, misalnya dengan diciptakan air, udara, api dan tanah. Kesemuanya itu merupakan sumber kehidupan manusia yang diciptakan Allah meskipun tanpa diminta oleh manusia Hal ini membuktian adanya kesengajaan yang direncanakan secara sistemik oleh Allah.
Kejadian alam semesta yang sistemik dibahas oleh Ibnu Rusyd dalam dalil ikhtira' yaitu dalil yang mengarahkan manusia agar mampu menghayati wujud Allah melalui penghayatan dan pemahaman keserasian atau keharmonisan aneka ragam.
Cara pembuktian lain dapat dikemukakan dalil logika dari ilmu kalam, diantaranya sebagai berikut.
Wa lammaa jaa-a muusaa limiiqaatinaa wa kallamahuu rabbuhuu qaala rabbi arinii anzhur ilaik qaala lantaraanii wa laakinin zhur ilal jabali fa inis taqarra makaanahuu fa saufa taraanii, fa lammaa tajallaa rabbuhuu lil jabali ja'alahu dakkaw wa kharra muusaa sha'iqaa, fa lammaa afaaqa qaala subhaanaka tubtu ilaika wa ana awwalul mu'miniin.
"Dan tatkala Musa datang untuk(munajat dengan kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman(langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakanlah(diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman" Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatku" Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman."
Oleh karena segala usaha manusia dalam pembuktian wujud Allah itu tetap nisbi dan terbatas, maka pembuktian perlu dicari dari sumber asli yang berasal dari Allah yaitu Alquran dan Sunah Rasul yang merupakan penjabaran Alquran.
Cara pembuktian lain hanya relevan bilamana tidak bertentangan dengan bukti-bukti yang disebutkan dalam Alquran dan As-Sunnah. Pembuktian yang dilakukan dengan cara lain berfungsi merinci ketentuan yang terdapat dalam Alquran dan Sunnah Rasul.
Dalam rangka mengembangkan keimanan kepada Allah secara falsafi yang sesuai dengan syariat Islam, Ibnu Rusyd menggunakan dalil nizham,(kerapian susunan alam) yang disebut dalil inayah wal-ikhtira(pemeliharaan dan penciptaan)
Adapun dalil inayah ialah teori yang mengarahkan manusia agar mampu menghayati wujud Allah melalui penghayatan dan pemahaman manfaat alam untuk manusia.
Hasil penelitian ilmiah menyatakan, bahwa alam ini sesuai dengan keperluan hidup manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Persesuaian manfaat ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan.
Bukti persesuaian wujud alam dengan keperluan kehidupan manusia, misalnya dengan diciptakan air, udara, api dan tanah. Kesemuanya itu merupakan sumber kehidupan manusia yang diciptakan Allah meskipun tanpa diminta oleh manusia Hal ini membuktian adanya kesengajaan yang direncanakan secara sistemik oleh Allah.
Kejadian alam semesta yang sistemik dibahas oleh Ibnu Rusyd dalam dalil ikhtira' yaitu dalil yang mengarahkan manusia agar mampu menghayati wujud Allah melalui penghayatan dan pemahaman keserasian atau keharmonisan aneka ragam.
Cara pembuktian lain dapat dikemukakan dalil logika dari ilmu kalam, diantaranya sebagai berikut.
" Tidak ada yang tidak ada, karena apabila yang tidak ada itu ada. Artinya tidak ada itu keadaan yang ada. Pembuat ada itu mesti ada dan mustahil pembuat ada itu tidak ada. Pembuat pertama dari ada dan tidak ada itu adalah wajibul wujud atau mutlak adanya, yang mesti ada dengan sendirinya. Persamakan"ada" itu dengan"X", "tidak ada" dengan "Y".