-->

Tradisi Upacara Maudu' Lompoa di Cikoang

Tradisi ini diawali oleh Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Al-Aidid (cucu Sultan Iskandar Muda mahkota Alam dari Aceh, keturunan Nabi Muhammad SAW yang ke-27 berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan. Beliau sebagai mufti Kerajaan Gowa pada masa Sultan Alaudin (ayah dari Sultan Hasanuddin yang nama lengkapnya Muhammad Al-Baqir Imallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin).

Sayyid Jalaluddin mengajarkan 3 prinsip pokok yang mendasari tradisi Maudu' Lompoa, yaitu:
  1. Al-Ma'rifah (Ma'rifat),
  2. Al-Iman (Kepercayaan),
  3. Al-Mahabbah (Kecintaan),

Upacara Maudu' Lompoa mempunyai kesan dan pengaruh batin yang luar biasa, misalnya ketika berlangsungnya upacara Maudu' Lompoa tidak seorangpun yang bubar meskipun di tengah sengatan terik matahari atau guyuran hujan deras. Mereka menganggap bahwa semua itu rahmat Allah SWT. Selain itu masyarakat setempat menjadikan tradisi ini sebagai tujuan dari aktivitas hidupnya. Para petani berharap hasil panennya banyak dan sebagian dapat digunakan untuk upacara Maudu' Lompoa, para pedagang berharap keuntungannya banyak agar sebagian dapat disisihkan oleh melaksanakan upacara Maudu' Lompoa.