1) "Hahaha. Bocah-bocah ini yang dikirim untuk mengalahkanku.
Graahhh! Jangan bercanda. Aku adalah Rantai Makanan yang berada paling puncak," kata si Monster.
Petualanganku dimulai. Saat aku menemukan benda aneh yang berbentuk oval. Aku memungut benda tersebut. Seketika benda itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang.
2) Tiba-tiba aku berada di suatu tempat. Benda berbentuk oval tadi berubah menjadi gelang yang terpasang di lengan kiriku. Dan di tangan kananku terdapat secarik kertas yang entah dari mana asalnya.
Dalam kertas tersebut tertulis "Kalian bertujuh terpilih untuk menyelamatkan dunia ini. Temuilah orang yang bernama Aslan di Kota Ascart. Kalahkan raja dari monster-monster itu agar kalian ke dunia lain".
3) Hanya itu yang tertulis di kertas. Tidak ada petunjuk apa pun tentang dunia ini. Kemudian, aku bergerak menuju sebuah kota yang terpencil.
"Sepertinya aku berada di Bazar," pikirku. Aku bertanya kepada paman penjual buah.
4) "Paman ini kota apa dan negara apa?" tanyaku sembari memilih buah. Padahal aku tidak mempunyai uang sepeser pun.
"Oh, sepertinya kau seorang petualang. Kau sekarang berada di Negara Monoro yang dipimpin oleh Raja Bruto Kageyama. Ini adalah Kota Ascart," jawab paman sambil membersihkan buah sesekali melirikkan matanya padaku.
3. Tokoh Monster memiliki watak
sombong
4. Latar tempat kutipan cerita imajinasi tersebut adalah di
Kota Ascart
5. Kutipan cerita latar lintas waktu ditunjukkan oleh kutipan nomor
2)
Pembahasan:
Latar atau setting disebut landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.1) Latar tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.
2) Latar waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah "kapan" terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.
3) Latar sosial
Latar sosial menyaran pada unsur-unsur yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap.