Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat menceritakan cerita
sebagai berikut kepada saya.
Pernah sekali saya memperoleh penyakit cinta lampu dan cinta matahari. Cinta matahari ini tidak beberapa lama hanya seminggu yaitu semasa saya masih bekerja antara pukul 8 pagi sampai pukul lima sore. Kala saya pukul memperoleh waktu istirahat untuk makan tengah hari, terlebih dahulu saya memandang mengap-mengap ke langit seperti ikan di daratan, baru saya pergi makan. Penyakit cinta ini demikian mendalamnya, sehingga sesudah seminggu saya tidak tahan, lagi pula ia tidak lalu minta berhenti. Sekarang saya mengeluh
kepanasan kalau berjalan dalam
cahaya matahari, lagi pula ia tidak memberi
akibat apa-apa kepada diri saya. Penyakit cinta lampu saya lebih berat. Dan saya tidak
menyangka-nyangka bahwa ia akan berkesudahan dengan kecewa, geram, malu, angan-angan dan cerita ini.
Kalimat kritik yang sesuai dengan penggalan karya sastra tersebut adalah
Alur cerpen Bola Lampu yangdigunakan berbelit-belit sehingga pembaca kesulitan untuk memahami ceritanya.