Suatu sore, setelah menyapu latar bagian belakang, Samirin berseru ke arah Marsi di pintu.
"Mana Bayun? Panggilkan!"
"Tahu!"
"Apa tidak kelihatan dari situ dia di samping atau di depan?"
Marsi beringsut ringan, melonggokan kepala.
"Bayun! Bayun! Dipanggil Bapak!"
Ada jawaban jauh, menjelaskan sesuatu yang panjang, tetapi tidak terang.
Samirin tidak mengerti, bertanya.
"Apa katanya?"
"Tahu"
"Atau kamu saja! Tolong ambilkan sekaleng minyak tanah."
"Buat apa?"
"Untuk membakar sampah."
"Allaaah, apa perlunya! Kan kita akan berangkat. Biarkan saja!"
Samirin yang sudah mulai beranjak menuju ke lubang sampah, segera berhenti dan berbalik.
Sinopsis yang sesuai dengan kutipan novel tersebut adalah
Sore itu, setelah menyapu latar belakang, Samirin berseru ke arah Marsi yang sedang berada di depan pintu. Samirin meminta Marsi meninggalkan Bayun. Namun, hanya terdengar suara Bayun yang tidak jelas. Oleh karena itu, Samirin meminta Marsi saja untuk membantunya. Samirin meminta tolong Marsi untuk mengambilkan sekaleng minyak tanah untuk membakar sampah. Namun, Marsi malah mempertanyakan alasan Samirin harus membakar sampah. Samirin berhenti. Samirin tidak melanjutkan langkahnya menuju lubang sampah. Dia berbalik arah.
Pembahasan:
Karya sastra yang dapat dibuat sinopsisnya adalah bentuk prosa dan naskah drama karena keduanya mengandung untaian cerita. Sebuah cerita konvensional (umum) memiliki tema, penokohan, setting/latar, plot/alur, dan amanat. Sinopsis seharusnya dimulai dengan identitas buku yang terdiri atas judul buku, nama pengarang, tahun terbit, kota penerbitan, dan tahun terbit.