Perbedaan Allah dengan Segala Makhluk
1. Wujud Allah
Wujud Allah yang bersifat mutlak dan berdiri sendiri tanpa awal dan tanpa akhir adalah wajib. Jadi pasti ada. Karena tanpa adanya, alam semesta pun tidak ada. Wujud Allah mempunyai keunikan jika dibandingkan dengan wujud makhluknya. Keunikan wujud Allah tampak dengan jelas pada perbedaan antara wujud Allah dan wujud makhluknya.
2. Sifat Allah
Sebagaimana keunikan yang terdapat pada wujud Allah, demikian juga pada sifat Allah. Allah bersifat Esa meliputi segala kesempurnaannya. Maksudnya bahwa atribut kualitatif yang terdapat pada Allah, sekalipun secara nisbi(relatif) menampakkan persamaan-persamaan dengan atribut kualitatif manusia atau makhluk lainnya, akan tetapi atribut tersebut yang melekat pada Allah bersifat absolut(tiada taranya) sesuai dengan keesaan-Nya.
3. Penciptaan oleh Allah
Proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah, mempunyai hubungan sistemik dengan ciptaan lainnya, sehingga penciptaan-Nya merupakan kesatuan yang utuh(integral) dalam suatu pranata yang besar(sistem). Titik pusatnya adalah manusia yang diciptakan dalam keadaan yang paling baik, dan karena itu kepadanya diserahkan tugas memakmurkan dan membudayakannya di atas bumi.
Penciptaan yang dilakukan oleh makhluk pada hakikatnya adalah memproses apa yang diciptakan Allah untuk makhluknya. Karena manusia tidak menguasai sistem alam semesta, maka apa yang diperbuatnya seringkali dalam jangka panjang mengakibatkan kerusakan walaupun pada mulanya ditujukan untuk kebaikan manusia.
Penciptaan yang dilakukan manusia cenderung antropocentris, Artinya kalau dia berbuat sesuatu untuk mempertahankan, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas hidup manusia terarah kepada dirinya sendiri(manusia) kecuali mereka yang mempunyai keterikatan yang kuat kepada Tuhannya. Dengan demikian dia mempunyai keikhlasan untuk melakukan sesuatu. Keterikatan dan keikhlasan seperti itu hanya dibentuk oleh ajaran agama, khususnya agama Islam.
4. Ciptaan Allah
Ciptaan Allah ada yang bernyawa dan ada yang tidak. Yang bernyawa mempunyai potensi untuk memahami dan melaksanakan perintah Allah. Dia berpribadi, dan mengalami proses pengembangan dirinya mulai dari tiada menjadi ada, besar, menua, rusak, serta hancur. Sebaliknya sifat dari ciptaan makhluk tidak bernyawa dan berpribadi serta tidak memiliki kemampuan untuk menerima dan melaksanakan petunjuk tanpa melalui proses conditioning. Juga tidak mampu mengembangkan diri sendirinya dan selain itu tidak bisa bergerak kecuali sesuai dengan hukum alam(hukum Allah). Benda bergerak sesuai dengan gaya tarik bumi.
Wujud Allah yang bersifat mutlak dan berdiri sendiri tanpa awal dan tanpa akhir adalah wajib. Jadi pasti ada. Karena tanpa adanya, alam semesta pun tidak ada. Wujud Allah mempunyai keunikan jika dibandingkan dengan wujud makhluknya. Keunikan wujud Allah tampak dengan jelas pada perbedaan antara wujud Allah dan wujud makhluknya.
2. Sifat Allah
Sebagaimana keunikan yang terdapat pada wujud Allah, demikian juga pada sifat Allah. Allah bersifat Esa meliputi segala kesempurnaannya. Maksudnya bahwa atribut kualitatif yang terdapat pada Allah, sekalipun secara nisbi(relatif) menampakkan persamaan-persamaan dengan atribut kualitatif manusia atau makhluk lainnya, akan tetapi atribut tersebut yang melekat pada Allah bersifat absolut(tiada taranya) sesuai dengan keesaan-Nya.
"Seluruh sifat Allah sesuai dengan wujudnya adalah abadi, sedangkan sifat dan wujud makhluk termasuk manusia tidak abadi dalam arti menua, memburuk, rusak, dan hancur".
3. Penciptaan oleh Allah
Proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah, mempunyai hubungan sistemik dengan ciptaan lainnya, sehingga penciptaan-Nya merupakan kesatuan yang utuh(integral) dalam suatu pranata yang besar(sistem). Titik pusatnya adalah manusia yang diciptakan dalam keadaan yang paling baik, dan karena itu kepadanya diserahkan tugas memakmurkan dan membudayakannya di atas bumi.
Penciptaan yang dilakukan oleh makhluk pada hakikatnya adalah memproses apa yang diciptakan Allah untuk makhluknya. Karena manusia tidak menguasai sistem alam semesta, maka apa yang diperbuatnya seringkali dalam jangka panjang mengakibatkan kerusakan walaupun pada mulanya ditujukan untuk kebaikan manusia.
Penciptaan yang dilakukan manusia cenderung antropocentris, Artinya kalau dia berbuat sesuatu untuk mempertahankan, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas hidup manusia terarah kepada dirinya sendiri(manusia) kecuali mereka yang mempunyai keterikatan yang kuat kepada Tuhannya. Dengan demikian dia mempunyai keikhlasan untuk melakukan sesuatu. Keterikatan dan keikhlasan seperti itu hanya dibentuk oleh ajaran agama, khususnya agama Islam.
4. Ciptaan Allah
Ciptaan Allah ada yang bernyawa dan ada yang tidak. Yang bernyawa mempunyai potensi untuk memahami dan melaksanakan perintah Allah. Dia berpribadi, dan mengalami proses pengembangan dirinya mulai dari tiada menjadi ada, besar, menua, rusak, serta hancur. Sebaliknya sifat dari ciptaan makhluk tidak bernyawa dan berpribadi serta tidak memiliki kemampuan untuk menerima dan melaksanakan petunjuk tanpa melalui proses conditioning. Juga tidak mampu mengembangkan diri sendirinya dan selain itu tidak bisa bergerak kecuali sesuai dengan hukum alam(hukum Allah). Benda bergerak sesuai dengan gaya tarik bumi.