Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?" tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
"Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang miskin,"sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masih terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, perlawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
"Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampung yang membesarkan kita" ucap Siti Halimah getir.
"Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi," ujar Karjan.
1. Tema yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah
sosial
Pembahasan:
Kutipan cerpen tersebut mengisahkan masalah sosial yang dihadapi oleh tokoh Karjan. Tokoh Karjan terpaksa hengkang dari tanah kelahirannya karena tanahnya akan dibangun bandar udara. Karena posisi sosialnya sebagai wong cilik (orang miskin) yang lemah, tokoh Karjan tidak dapat mempertahankan tanahnya.
2. Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah
mengharukan
Pembahasan:
Latar mengharukan tampak dalam kutipan Teriakan Lik Paijan masih terdengar menyayat hati dan melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah.
3. Sudut pandang dalam kutipan cerpen tersebut adalah
orang ketiga tunggal
Pembahasan:
Sudut pandang orang ketiga tunggal menempatkan pengarang sebagai orang yang berada di luar cerita. Dalam kutipan cerpen tersebut pengarang bertindak sebagai pencerita.
4. Watak tokoh Karjan dalam kutipan cerpen tersebut adalah
mudah pasrah
Pembahasan:
Tokoh Karjan dalam kutipan cerpen tersebut digambarkan sebagai orang yang mudah pasrah terhadap nasibnya. Tokoh Karjan tidak melawan saat tanahnya dirampas untuk dijadikan bandar udara.
5. Hubungan antarunsur intrinsik dalam kutipan cerpen tersebut adalah
latar sosial berkaitan dengan konflik
Pembahasan:
Unsur intrinsik yang menonjol dalam kutipan cerpen tersebut adalah latar sosial dan konflik cerita. Latar sosial yang diangkat dalam cerpen ikut menjadi penyebab konflik.