"Bagaimana? Kapan kita bisa mulai?" tanya Damar Septian.
"Tujuan saya kemari adalah untuk memberi tahu bahwa saya tidak bisa memenuhi tugas yang Bapak amanatkan," ujar Suar.
Damar Septian mengubah posisi duduknya menjadi tegak. "Maksudnya?"
"Mohon maaf."
"Kamu menolak saya?"
"Sekali lagi, mohon maaf, Pak."
"Ini soal uang? Saya bisa kasih down payment sebanyak lima puluh persen."
"Bukan. Ini bukan soal uang. Saya merasa kurang cocok dengan proyek film yang Bapak minta. Daripada ujungnya tidak enak, lebih baik saya putuskan dari awal saya mundur."
"Sebut saja angka yang kamu mau. Uang bukan masalah. Setiap orang punya harga", Damar Septian seolah tidak mendengar kata-kata Suar.
Suar berdiri dari kursi, lalu merapikan blusnya.
"Setiap orang punya harga, tetapi tidak semua orang dijual", ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Damar Septian tidak menyambut tangan Suar. Ia memalingkan wajah. "Seumur-umur, saya enggak pernah ditolak. Memangnya kamu siapa? Saya bisa cari orang yang sepuluh kali lebih hebat dari kamu."
"Saya yakin Bapak akan dapat sutradara yang lebih hebat. Selamat siang." Suar berjalan ke arah pintu.
3. Penyebab konflik dalam kutipan novel tersebut adalah
Tokoh Suar mundur dari proyek film tokoh Damar Septian.
Pembahasan:
Konflik dalam kutipan novel tersebut terjadi antara tokoh Suar dan tokoh Damar Septian. Tokoh Suar mundur dari proyek film dari tokoh Damar Septian.
4. Akibat konflik dalam kutipan novel tersebut adalah
Tokoh Damar Septian meremehkan kemampuan tokoh Suar.
Pembahasan:
Konflik yang terjadi dalam kutipan novel adalah tokoh Suar menolak bekerja dalam proyek film tokoh Damar Septian. Tokoh Damar Septian bersikukuh tokoh Suar harus ikut dalam proyek film itu karena tokoh Damar Septian dapat membayar berapa pun yang diminta tokoh Suar. Akan tetapi, tokoh Suar tetap menolak tawaran tersebut. Tokoh Damar Septian pun lalu meremehkan kemampuan tokoh Suar sebagai sutradara.