-->

"Aku bukanlah lagi si cacat bodoh.

Aku tidak cacat. Sama sekali tidak. Harga diriku masih jauh lebih baik daripada ini semua." tekad si Cacat dalam hati, tulus. "Tuhan, maafkan semua kebodohanku dan ketamakanku ini. Sungguh aku telah sesat dibuatnya. Ia melangkah pergi meninggalkan markas besarnya. Langkahnya gontai. Air mata pun tak henti temani langkah demi langkah yang ia jejaki. Si Cacat telah jera. Ia telah lenyap dari muka bumi ini. Bukankah tangan di atas jauh lebih baik dari tangan di bawah?

Kutipan cerpen tersebut merupakan bagian
penyelesaian
Pembahasan:
Kutipan cerpen tersebut berisi penyesalan si tokoh akan kekeliruan yang telah dibuatnya yang berarti konflik selesai.