Tersebutlah pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan suadaranya Indera Bangsawan.
Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada
Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya. Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai (tempat kediaman raja). Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat gendang tergantung. Gendang itu
dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu.
Ciri hikayat berdasarkan penggalan hikayat di atas adalah
Terpengaruh agama Islam, bahasa klise dan istana sentris
Watak Syah Peri pada penggalan hikayat di atas adalah
Tabah