Wak Katok diam dengan air muka yang keras,
dosa-dosanya telah diceritakan sebagian besar oleh Pak Balam. Dan tentang dosa yang terakhir, dia yakin sekali, tak seorang juga yang tahu, dan dia tidak hendak menceritakannya kepada siapa pun juga. Biarlah orang lain mengakui dosa-
dosanya. Pak Balam kemudian terdengar berkata dengan suara seperti orang mengigau:
“Awaslah, harimau itu kiriman Tuhan untuk
menghukum kita yang berdosa awaslah
harimau dikirim Allah awaslah harimau akui dosa-dosa kalian-akui dosa kalian”
Mereka diam saja mendengarkannya, rasa takut mulai timbul dalam hari mereka, seluruh gelap rimba raya di sekeliling terasa penuh dengan ancaman dan raksasa hitam yang ganas yang bersembunyi menunggu saat hendak menerkam, dan mereka merasa seakan harimau dengan gelisah berjalan mondar mandir seberang batas gelap ...
(Harimau-harimau karya Mochtar Lubis)
Sudut pandang penggalan novel di atas adalah
Orang ketiga serba tahu
Akibat konflik yang terdapat dalam penggalan novel di atas adalah
Munculnya rasa takut para tokoh terhadap dosa-dosa mereka