Wak Kepon itulah orang menyebutnya.
Badannya tinggi besar, kulitnya hitam seperti batu bata tak jadi. Perintahnya jadi fakta, nasihatnya jadi mantra orang sekampung. Jangankan orang ayam dan kambing pun menunduk bila berpapasan dengannya.
Hal yang menyebabkan ia diperlakukan seperti itu, aku tidak tahu persis. Namun, menurut cerita dari mulut ke mulut, dulu dia pernah kesambar petir, tetapi tidak apa-apa hanya badannya yang menghitam dan mengeluarkan asap. Maka sejak saat itu, ia dijuluki "Orang Sakti dari Jatisari".
Jika dia datang ke sebuah acara, orang akan berdiri dan musik akan dihentikan sejenak sampai dia duduk.
Makna simbol orang akan berdiri pada teks cerita tersebut adalah
penghormatan
Pembahasan:
Pengabdian dan penghambaan tidak tepat pada teks tersebut, walaupun Wak Kepon sangat disegani atau ditakuti.