Kimin ingin secepatnya sampai ke tempat Suing.
Aneh, setelah perutnya kenyang. Kimin tak mampu berlari. Air yang memenuhi lambungnya, koplak bila dibawa bergerak cepat. Hanya karena air dan sebungkus nasi di tangannya, yang mungkin berarti nyawa Suing. Kimin membungkam rasa nyeri dalam lambung sendiri. Ikat pinggang dikencangkannya dan Kimin berlari mendekati bukit.
Perapian masih mengepulkan asap ketika Kimin mencari belukar puyengan itu. Dia menyuruk ke dalam ingin cepat meyakinkan dirinya bahwa Suing masih hidup. Benar, Suing belum mati. Bahkan didapatinya Suing dalam keadaan duduk di dekat perapian. Goyah dan wajahnya kembali menjadi topeng.
Dengan giginya, Kimin membuat lubang pada sudut kantong plastik itu dan mengucurkannya langsung ke mulut Suing. Mula-mula Suing tetap diam sehingga air tumpah kembali membasahi dadanya. Tetapi kemudian dia berubah beringas. Direbutnya kantung air itu, disedot-sedotnya seperti orang kesetanan. Kimin terpaksa menarik kantung plastik itu karena Suing terus memamahnya meskipun air telah habis.
Lega. Kimin merasa begitu lega. Ditunggunya perubahan pada wajah Suing. Ditunggunya tanda-tanda kesembuhan pada diri sahabatnya itu.
Watak tokoh Kimin dalam kutipan cerpen tersebut adalah
peduli