1) Sejak memungut sampah di sekolah berasrama itu,
aku menemukan lebih banyak barang yang bisa aku berikan kepada anak sulungku itu. Di benakku, sibuk berkeliaran kata-kata seperti, "Wah, ini masih bagus!"; "Yang ini pasti cocok dengan Lilis"; atau "Sayang sekali, barang mahal begini kok dibuang."
2) Tiba-tiba saja, dari arah barat, Lilis datang dengan langkah yang tangkas–setengah berlari tepatnya. Sesekali kulihat dia mengusap pipinya. Barulah kemudian kutahu bahwa dia menangis, ketika telah sampai di muka rumah.
3) "Ada apa, Lis? Datang-datang kok nangis?" tanyaku pelan.
4) Lilis tidak menggubris pertanyaanku. Dia malah menyelonong ke kamar sembari membanting pintu masuk. Aku tersentak. Kulihat adik-adik Lilis juga terbangun karenanya. "Kenapa, Lis? Kamu ini kenapa, Nak?"
5) "Bapak tahu tidak? Baju yang Bapak kasih Lilis ini adalah baju bekas kakak teman sekelompok Lilis yang sekolah di asrama itu! Lilis malu, Pak! Malu!" bentaknya sambil tersedu. Beberapa kali kalimatnya harus terpenggal karena terisak. Hatiku pun tercabik-cabik.
Bukti watak tokoh Bapak yang penyayang ditunjukkan oleh angka
1)
Pembahasan:
Bukti watak dapat diketahui dengan penggambaran karakter tokoh. Cermati karakter tokoh dalam cerita dengan saksama. Temukan perbuatan, dialog, atau pemikiran tokoh yang menunjukkan bukti watak dari tokoh tersebut.