-->

"Aduh, Dik Kabul ini bagaimana? Sudahlah, ikuti perintahku.

Gunakan besi itu. Toh itu hanya untuk menutup kekurangan. Aku tahu penggunaan besi bekas memang tidak baik. Tapi bagaimana lagi, dana sudah habis. Makanya, kita pun tak mampu membeli pasir giling. Dana benar-benar sudah habis."

"Pak, kali ini saya tidak bisa berkompromi," jawab Kabul penuh percaya diri.

"Tak bisa kompromi bagaimana? Dengar, Dik Kabul. Kita sudah selesai membangun bagian terpenting, yakni struktur jembatan. Bukankah Dik Kabul yakin sejauh ini pekerjaan kita bisa dipertanggungjawabkan?"

"Saya bertanggung jawab atas kualitas struktur jembatan."

Nah, Dengan demikian kita tinggal menyelesaikan bagian-bagian luar struktur. Bila kita sedikit menurunkan kualitas di bagian ini, mestinya tidak mengapa. Taruhlah, karena kita menggunakan pasir sungai dan besi bekas, lalu lantai jembatan hanya kuat bertahan satu atau dua tahun. Dik Kabul tak usah risau. Karena struktur jembatan tidak ada masalah. Lagi pula kita dikejar waktu. Dan aku bendaharawan GLM. Bupati, Dandim. Kapolres, Kepala Kejaksaan, Ketua Pengadilan, semua kader dan pendukung GLM. Di DPRD, golongan kita dominan. Bahkan wakil dua parpol itu juga orang-orang berjiwa GLM tapi diberi baju hijau dan merah. Semuanya pendukung setia Bapak Pembangunan. Jadi siapa yang berani mengusili kita? Paling-paling LSM! Dan untuk meladeni anak-anak LSM kita punya aparat keamanan. Jadi, Dik Kabul tenang sajalah. Semua bisa kita reka-reka. Semua bisa kita atur.

Penyebab konflik dalam kutipan novel tersebut adalah
perintah tokoh Dalkijo kepada tokoh Kabul untuk menggunakan besi bekas
Pembahasan:
Masalah batin timbul dari dalam diri tokoh. Masalah ini terjadi antara tokoh dan dirinya sendiri. Masalah merupakan salah satu unsur intrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun cerita dari dalam. Konflik dalam cerita disebabkan oleh suatu peristiwa sebagai pemicunya. Konflik dalam cerita juga menyebabkan terjadinya sebuah peristiwa.