"Kamu orang yang terdidik yang baru saja lulus Master.
Kamu memohon saya menerima makanan yang tidak saya perlukan? Sementara ada orang lain yang pasti memerlukannya?"
Rastun mulai marah.
"Apa pun yang Profesor katakan, pokoknya saya minta supaya menerima makanan itu. Dibuang pun saya tidak peduli. Saya harus menebus kaul saya. Kalau makanan itu saya bawa, kaul saya tidak akan tertebus."
Rastun meletakkan makanan itu di atas meja di teras.
"Profesor, ini adalah janji saya. Biarkan saja makanan ini di sini kalau Profesor tidak suka. Profesor juga tidak harus menerimanya. Biar dia busuk dan pelayan Anda akan membuangnya besok. Tapi secara ritual obligasi saya sudah laksanakan, saya tidak akan merasa berhutang dan berbohong pada diri saya sendiri. Tolong pahami saya."
Profesor menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak bisa memahami apa yang tidak mungkin saya pahami. Saya seorang profesor Rastun, saya dididik untuk jujur, saya tidak boleh berkompromi terhadap apa yang saya anggap salah."
"Terserah, Prof. Pokoknya makanan ini saya taruh di sini."
Rastun menaruh makanan itu di meja.
"Kalau perlu saya akan datang besok dan membantu Profesor untuk membuang makanan ini. Begitu bisa? Jadi, Profesor tidak usah repot."
Profesor sekarang tidak menjawab lagi. Ia hanya memandangi bagaimana Rastun meletakkan bungkusan makanan itu di meja. Lalu bergerak hendak pergi.
Akibat konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah
Tokoh Rastun tetap meletakkan makanan di meja tokoh Profesor, lalu pergi.
Pembahasan:
Masalah dari luar terjadi antara tokoh dan sesuatu di luar dirinya. Masalah ini bisa terjadi dengan lingkungan atau manusia. Masalah dari luar dibagi menjadi dua.
1. Masalah fisik merupakan masalah yang disebabkan benturan antara tokoh dan lingkungan. Sebagai contoh konflik yang dialami tokoh akibat bencana alam.
2. Masalah sosial merupakan masalah yang muncul karena hubungan antarmanusia, misalnya, masalah pertikaian, perebutan, atau perceraian.