-->

Kalimat-kalimat sastrawi dalam novel Lemah Tanjung dapat menjadi "dokumen sosial" dalam menuliskan perjuangan agraria dalam bentuk karya sastra.

Novel ini mampu memunculkan gejolak batin para pejuang agraria dalam usaha pelestarian alam. Seperti karya-karyanya yang lain, cerita dalam novel ini berangkat dari hal-hal yang nyata dan pernah terjadi. Lemah Tanjung adalah sebuah hutan kota yang telah menjadi perumahan. Sebagai sebuah dokumen sosial, novel ini dapat mewariskan semangat perjuangan aktivis lingkungan pada masanya kepada generasi sekarang.

Kalimat simpulan yang tepat untuk mengakhiri esai tersebut adalah
Bumi masih terancam dari kerusakan dan membutuhkan pejuang-pejuang baru untuk melestarikannya. Generasi-generasi muda dapat belajar dari novel Lemah Tanjung untuk mewujudkan reformasi agraria dan menjaga bumi ini dari kerusakan.
Pembahasan:
Jika dilihat dari bentuknya, esai mirip dengan opini. Esai membahas masalah sesuai dengan pendapat penulis. Jadi, satu masalah dapat ditulis menjadi esai berbeda. Perbedaan ini sesuai dengan pendapat penulis. Esai berusaha meyakinkan pembaca untuk menerima pendapat penulis. Esai membahasa masalah mulai dari masalah penting sampai masalah biasa, misalnya novel baru terbit atau suara bayi baru lahir pun bisa dijadikan esai.