Masuklah mereka ke pekarangan pekuburan menuju sebuah makam batu pualam
yang jauh lebih indah dari makam-makam yang lain. Kiri kanannya berteraliskan besi yang bercat hijau dan di atasnya melonjong atap, seng, dijunjung oleh kasau-kasau besi yang ujungnya melengkung seperti berukir-ukir. Amat permai rupa sekaliannya, seakan-akan bukanlah sisa badan manusia yang ditutupnya, tetapi sesuatu yang tak ternilai harganya.
Pada batu nisan pualam putih yang berukir tepinya, tertulis dengan air emas yang berkilat-kilat:
Maria berpulang . . . Januari 193 . . . usia 22 tahun.
Dan kepermaian kuburan di tempat yang sunyi sepi itu selaku digembirakan oleh sorak warna hijau dan kuning daun pudding, disela oleh kemerahan kembang dahlia yang marak mesra.
Perempuan yang membawa karangan bunga mawar yang putih suci itu perlahan-lahan meletakkan karangan bunga itu di sebelah kepala makam yang permai itu. Maka selaku terpekurlah berdiri kedua-duanya memandang ke makam, tiada menggerak-gerakkan dirinya.
Lima hari lagi akan berlangsung perkawinan mereka di Jakarta. Sebelum perkawinan mereka berlangsung, pergi dahulu mereka ziarah ke kuburan orang yang sama-sama dicintainya.
Nilai dalam kutipan novel tersebut yang terkait dengan kehidupan saat ini adalah
Pembahasan:Melakukan ziarah kubur sebelum menikah.
Bukti nilai dapat diketahui melalui perbuatan tokoh dalam cerita, kebiasaan tokoh dalam cerita, atau hubungan tokoh dengan tokoh lain dalam cerita. Bukti nilai dapat ditemukan melalui penggambaran pengarang terhadap nilai-nilai kehidupan yang ingin disampaikan kepada pembaca.